Kiat Berani Mengambil Keputusan

Oleh:
Abdul Rahman, S.K.M, M.Si.
Email: rhnoke@yahoo.com
Dalam setiap keputusan pasti ada risiko. Tetapi abulia, yang berarti ketidakmampuan untuk mengambil keputusan, sebetulnya berisiko lebih fatal. Abulia ini seperti musuh dalam selimut di dunia kerja. Banyak hal yang seharusnya terselesaikan dengan baik, atau menjadi jauh lebih balik, tersabotase hanya karena tidak adanya keberanian untuk mengambil suatu keputusan. Oleh karena itu, abulia, harus dikikis.
Setiap keputusan meskipun sudah di-back up informasi, pemikiran maupun perencanaan terbaik, memang tetap memiliki risiko. Tidak ada satu jaminan pun yang dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil pada saat itu, adalah keputusan yang paling tepat dan tidak menimbulkan konsekuensi yang belum diantisipasi. Tetapi seburuk apapun hasil suatu keputusan, jauh lebih baik daripada sama sekali tidak ada keputusan yang diambil.
Selain menimbulkan ketidakpastian dan menghambat tercapainya kondisi yang lebih baik atau kesuksesan yang sudah di depan mata, sikap tidak mengambil keputusan berpeluang menjadi perangkap menuju permasalahan yang lebih besar. Nah, agar abulia ini tidak menjadi penyakit kronis di dunia kerja, kita perlu memahami alasan mengapa kita perlu mengambil keputusan dan kiat agar berani dan selalu siap untuk mengambil suatu keputusan.
Alasan Mengambil Keputusan
Banyak alasan mengapa kita sebaiknya berani mengambil keputusan. Tapi alasan yang paling mendasar adalah 4 hal berikut ini:
- Setiap manusia berkembang; Pemikiran, kebutuhan, bahkan wawasan kita setiap hari bertambah. Sehingga suatu kondisi yang semula baik-baik saja, ada masanya menjadi kurang memadai dan perlu disesuaikan melalui suatu keputusan.
- Setiap manusia memiliki target; Besar maupun kecil, target yang ingin dicapai selalu menjadi tujuan dari kegiatan yang sedang dilakukan. Keputusan umumnya harus diambil untuk memastikan target akan dicapai atau dibiarkan lewat begitu saja.
- Setiap manusia ingin kepastian; Adanya keputusan akan memperjelas kondisi yang ada dan otomatis memberi kepastian.
- Setiap manusia ingin perubahan; Kondisi yang lebih baik merupakan perubahan yang diinginkan setiap manusia. Keputusan untuk hal ini tentu sangat diperlukan.
Kiat-Kiat Agar Berani dalam Mengambil Keputusan
Adapun kiat yang perlu dipahami agar berani dan selalu siap dalam mengambil keputusan adalah:
- Pastikan masalahnya; Langkah pertama ini sangat penting untuk mengetahui dengan benar apa pokok permasalahannnya yang dihadapi. Jangan sampai kita mengambil keputusan yang hanya menyelesaikan efek sampingnya saja, tapa menyentuh permasalahan yang sebenarnya. Jadwal produksi yang kacau, misalnya bukan semata-mata karena personil yang kurang. Bisa jadi efisiensi kerja yang harus dibenahi.
- Pastikan apa yang ingin dicapai; Bila keputusan diambil, apa yang seharusnya terjadi? Jadwal produksi menjadi lebih lancar? Produksi meningkat? Para pekerja lebih giat? Susunlah skala prioritas hasil yang ingin diperoleh dari keputusan yang diambil, agar keputusan bisa lebih mudah diambil.
- Pikirkan Alternatif lain; Jangan pernah membiarkan diri terjebak dalam pemikiran bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasi masalah yang ada. Pilihan-pilihan lain selalu ada dan bisa kita pertimbangkan plus-minusnya.
- Uji-coba implikasinya; Evaluasi dengan seksama setiap aspek yang berkaitan dengan pilihan keputusan yang akan diambil dengan cara uji coba di atas kertas. Apakah cukup realistis ? menambah personil berarti menambah anggaran produksi. Honor, fasilitas, perlengkapan kantor, dsb. Sementara menciptakan efisiensi kerja berarti sarana maupun prasarana pendukung, harus juga dibenahi. Pilihkan keputusan yang lebih memungkinkan untuk dilaksanakan.
- Buatlah perencanaan pendukung; Bila rencana ’A’ gagal, masih ada rencana ’B’ yang dapat dipakai. Baik sebagai pengganti rencana ’A’ dalam mencapai hasil yang ditargetkan, maupun untuk sekadar mendukung rencana ’A’, agar kegagalan yang lebih fatal dapat dihindari.
- Melatih intuisi; Kata intuisi, di dalam kamus, berarti proses memperoleh ilmu pengetahuan tanpa mengandalkan akal. Dalam bisnis, intuisi ikut berperan pula dalam mengambil sejumlah keputusan besar dan menentukan. Terkadang, seorang manajer puncak dituntut untuk segera bertindak berdasarkan intuisi dan perasaan, selain menggunakan logika.
Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi seorang manajer puncak untuk bisa bermain dengan intuisinya. Untuk membiasakan diri mengambil keputusan dan berfikir dengan menggunakan intuisi, memang dibutuhkan bakat. Meski tak semua orang dikaruniai bakat ini, intuisi bisa dilatih.
Menurut Al Williams, Presiden IBM yang memperkenalkan intuisi dalam bisnis tiga dekade lalu, ada hal yang harus diperhatikan para manajer puncak untuk menangkap kesempatan, keuntungan, peringatan, atau tren baru yang potensial. Di sinilah intuisi bisa bermain. Proses ini memang tak mudah; butuh deteksi, analisa, pemikiran yang tajam dan tindakan yang cepat tanpa harus berpikir lagi dari sudut logika. Keahlian ini membutuhkan pimpinan yang mahir melihat dan menangkap hal yang tersembunyi untuk kemudian dijabarkan dalam tindakan yang logis.
Bagaimana pun, instuisi pada akhirnya harus tetap didukung oleh logika. Selain itu, dibutuhkan pula kombinasi pengambilan keputusan yang cepat. Keputusan yang diambil dalam waktu cepat kadang memang mengundang risiko, tapi keputusan yang lambat pun dapat berakibat fatal bagi bisnis.
Sebagaimana diungkapkan Williams, intuisi memang harus dilatih melalui uji penciuman. Michael J. Kami, konsultan perusahaan Harley Davidson, menawarkan dua contoh kasus mengasah intuisi.
Kasus Sears merupakan contoh pertama yang dikemukakan Kami. Pada tahun 1984, kantor pusat Sears memerintahkan sebuah pertokoan untuk memindahkan layanan antar jemput mail order. Layangan yang tadinya berada di lokasi drive-in strategis di lantai dasar dipindahkan ke lantai dua, jauh dari eskalator. Niatnya untuk memaksa konsumen jalan kaki melewati area pertokoan, sehingga mereka tertarik untuk belanja terlebih dahulu.
Uji penciuman:
Sears bersikap sebagai perusahaan dengan visi dari dalam ke luar, artinya tidak melihat kebutuhan konsumen dari kacamata konsumen, tapi justru dari kacamata mereka. Sears juga terkesan sombong, mementingkan diri mereka, tidak cepat tanggap pada kebutuhan dan keinginan konsumen.
Kesimpulan:
Konsumen tidak begitu penting buat Sears dan sikap ini jelas berdampak pada keseluruhan organisasi. Dari segi statistik, kebijakan ini tidak menunjukkan tanda ancaman. Akan tetapi, uji penciuman dengan mengandalkan intuisi, justru menjadi ancaman serius. Benar saja, Sears ternyata terperosok dalam kesulitan karena tak mampun bersaing di pasar dengan orientasi pada konsumen.
Kasus kedua terjadi pada Mercedez Benz pada tahun 1987. Perusahaan otomobil ini mengganti bagian kecil pada mesin penyemprot air di bagian untuk jenis 560L mereka. Bahan yang mulanya terbuat dari stainless steel diganti dengan aluminium. Penghematan pada tiap mobil mewah ini hanya berniat secuil sen saja. Aluminium mudah berkarat terkena air asin dan menghalangi jalannya air. Kerusakan ini menyebabkan pencuci jendela tak bisa berfungsi.
Uji penciuman:
Mercedes mengorbankan aset mereka yang begitu besar; penghargaan tinggi dari konsumen mereka, hanya untuk penghematan yang secuil itu.
Kesimpulan:
Dilihat dari statistik, keuntungan perusahaan pasti anjlok, karena rusaknya citra yang sudah dibangun. Pesaing dari Jepang yang pandai melihat peluang ini akan bisa meraup keuntungan dari kejatuhan ini. Penjualan Mercedes-Benz terbukti menurun dan pada akhirnya anjlok.
Pengamatan macam ini memang butuh kelihaian. Untuk menguasainya diperlukan kemahiran membaca situasi dan berfikir dengan cepat. Seorang manajer perlu mengasah kemampuan indera ke-enamnya akan hal-hal kecil di sekitarnya. Mereka bisa saja mengendus ketidakberesan di perusahaan mereka dengan memperhatikan hal semacam kualitas barang, layanan, produktivitas, perawatan, birokrasi, cara menerima telepon, keluhan konsumen dan banyak lagi.
Uji penciuman bisa dikembangkan dengan latihan terus-menerus. Tentu saja ini tak tergolong dalam metode analisa, tapi tetap membutuhkan kecermatan dalam melihat gejala. Sebuah perusahaan harus melatih dan mengasah kemampuan uji penciuman sejak dari tingkat dasar. Kalau tidak, seperti contoh kasus di atas, bersiaplan menghadang kesulitan yang menghampiri dalam sekejap mata.
Satu hal yang perlu kita pahami bahwa sebenarnya kehidupan ini selalu diwarnai dengan keputusan-keputusan yang harus diambil. Bersikap diam pun sebenarnya secara tidak langsung dapat diartikan kita sudah mengambil keputusan. Yaitu, keputusan untuk tidak mengambil keputusan, yang akibatnya kurang baik. Maka sudah sepantasnya bila mulai saat ini, dengan mempertimbangkan enam kiat di atas, kita memastikan diri untuk menentukan sikap dengan berani mengambil keputusan atas setiap masalah yang kita hadapi. Dengan mengucapkan basmalah, insya Alloh keputusan yang kita ambil setelah melalui ke lima proses di atas, dapat membawa berkah bagi semua pihak.
Oleh:
Abdul Rahman, S.K.M, M.Si.[*]
STIA LAN Bandung, Jl. Cimandiri 34-38 Bandung, email: rhnoke@yahoo.com, HP: 0818876750






